Lahir di Pulau Bangka, Linda Christanty adalah penulis esai “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste”, (Militarism and Violence in Timor Leste). Karyanya ini memenangkan Human Rights Award for Best Essay di tahun 1998. Ia juga menulis cerita pendek, Kuda Terbang Maria Pinto, (Maria Pinto’s Flying Horse) yang memenangkan the Khatulistiwa Literary Award 2004. Banyak tulisannya juga dimuat di harian Sinar Harapan (Jakarta), Flores Pos (Flores), Pontianak Pos (Kalimantan), Fajar Pos (Sulawesi), Serambi Indonesia (Aceh, Sumatra), and Suara Timor Lorosae (East Timor). Dia sempat bekerja sebagai redaktur majalah kajian media dan jurnalisme Pantau (2000-2003), kemudian menulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Sejak akhir 2005, dia memimpin kantor feature Pantau Aceh di Banda Aceh. Ia pun pernah menjadi kontributor majalah Playboy Indonesia. Hari ini adalah pemred kantor berita Yayasan Pantau dan tinggal di Banda Aceh.

Sempat beredar rumor Linda Christanty adalah A Ling sesungguhnya yang digambarkan oleh Andrea Hirata. Linda telah meluruskan hal ini, sila lihat blog: http://winwannur.blogspot.com/2008/10/koreksi-linda-christanti-laskar-pelangi.html

Judul: Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay
Penulis: Linda Christanty
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Februari 2009
Tebal: xvi + 200 halaman.

RESENSI – 1

Majalah Tempo edisi 07/XXXVIII 06 April 2009

Indonesia dari Kamera Linda

”Buku ini merupakan rekaman perjalanan, pemikiran, dan kepedulian saya terhadap orang-orang biasa…”

Demikian Linda Christanty memberikan pengantar dalam bukunya yang terbaru berjudul Dari Jawa Menuju Atjeh, sebuah kumpulan perjalanan jurnalistik yang baru saja terbit. Ternyata buku berisi 17 judul tulisan itu bukan rekaman kepedulian tentang ”orang-orang biasa”, karena sebagian subyek yang ditulis Linda adalah orang luar biasa dalam sejarah: Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, dan Dede Oetomo. Dan penulisnya sendiri pun bukan seorang penulis biasa. Dia adalah aktivis SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) yang bergerak dengan gesit di bawah ancaman pemerintah Orde Baru; untuk kemudian bergabung dengan majalah Pantau (1999) dengan alasan ”saya dapat berpihak pada orang-orang biasa dan bersikap kritis terhadap kekuasaan”. Di antara kesibukannya meliput itu, Linda kemudian dikenal sebagai sastrawan yang melahirkan kumpulan cerita pendek Kuda Terbang Maria Pinto, yang memenangi Khatulistiwa Literary Award (2004).

Kumpulan tulisannya dimulai dengan sebuah perjalanan Linda ke Aceh, tempat untuk pertama kalinya dia membangun dan memimpin kantor berita Aceh Features Service. Linda membukanya dengan kalimat yang menggoda, yang membuat pembaca segera saja memutuskan untuk setia pada tulisannya: ”Dia hampir menendang laptop saya yang tersandar di kaki kursi.”

Lead seperti ini merebut perhatian. Linda, 39 tahun, seorang aktivis, sastrawan, dan wartawan yang memahami bagaimana menarik minat tanpa harus ”menjerit” atau berpretensi menggunakan kata-kata puitis. Kisah hari pertamanya bertemu dengan pengusaha Agam Patra adalah sikap khas seperti seorang yang sudah lama di Pulau Jawa, yang tak mengenali pemuka daerah. Ketika kawannya menyatakan bahwa Linda barusan diantar Agam Patra yang terkenal, Linda hanya memberikan reaksi: ”Oh….”

Hampir di semua tulisannya, ”Jurnalisme dalam Sepotong Amplop” (tentang saat pertama Linda bertemu dengan dunia ”jurnalisme bodrek” yang menghalalkan amplop), ”Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer”, ”Wiji Thukul dan Orang Hilang” (tentu saja tentang Wiji Thukul), ”Gaya Nusantara” (tentang homoseksual di Indonesia), ”Adakah Pelangi dalam Islam”, Linda tidak menghakimi. Apa yang dia ceritakan adalah sebuah kisah yang penting dalam sejarah dan posisi subyek itu dalam sejarah. Ia menceritakan dengan kalimat yang jernih, pas, dan sesekali lucu. Ini adalah faktor penting dalam sebuah penulisan artikel features dengan gaya literary journalism yang tampaknya menjadi acuan dalam gaya penulisan Linda.

Dalam penulisan literary journalism yang selalu menggunakan sang wartawan sebagai ”kamera”, sebagai pencerita, sangat sulit rupanya (bagi warta¬wan Indonesia, paling tidak) untuk melupakan bahwa yang diceritakan bukanlah dirinya sendiri, tetapi: subyek berita. Beberapa tulisan gaya literary journalism yang sesekali dianut juga oleh majalah ini—sang wartawan malah sibuk dengan pemikirannya sendiri dan menjadikan subyeknya sebagai topik periferal. Dalam hal ini, Linda tahu, dia adalah sebuah ”kamera”; seorang pendongeng dan seorang wartawan. Dia tetap meletakkan Pramoedya, Wiji Thukul, Dede Oetomo di panggung cerita, tanpa melupakan reaksi dan pemikirannya sebagai bagian dari jalinan cerita.

Dalam artikel ”Gaya Nusantara”, kita mengenal Dede Oetomo, seorang gay yang berani keluar secara publik menyatakan orientasi seksualnya pada 1979, ketika soal homoseksualitas masih menjadi topik bisik-bisik. Linda bukan sekadar menyajikan Dede sebagai seonggok data biodata, tetapi dia meniupkan roh ke dalam tulisannya. Dede Oetomo seolah tampil seperti film dokumenter dalam bayangan kita; seseorang yang tidak mau kalah dan sangat nyaman dengan posisinya di masyarakat Indonesia yang masih memandang homoseksualitas sebagai ”sesuatu yang tidak normal”. Tetapi, lebih penting lagi, Linda selalu memberikan konteks, memberikan latar belakang sejarah dan situasi pada setiap gerakan subyeknya. Dalam kisah Dede, dia akan mengingatkan pembaca pada situasi politik dan sosial ketika Dede mulai mengumumkan keadaan dirinya, sampai soal homoseksualitas dalam tradisi dan Serat Centhini. Linda juga memperkaya tulisannya dengan informasi guru besar Soetandyo Wignyosoebroto bahwa baru pada 1985 Departemen Kesehatan menghapus homoseksual dari daftar penyimpangan jiwa.

Dalam tulisan ”Adakah Pelangi dalam Islam”, Linda menekankan suatu pertanyaan penting yang sedang mengguncang negeri ini: apakah kebenaran itu tunggal? Apakah pemahaman Islam itu hanya satu? Lagi-lagi Linda tak berusaha menghakimi, meski jelas dia sangat memberikan empati kepada Ulil Abshar Abdalla, yang dikenai sanksi fatwa akibat tulisan-tulisannya.

Tulisan ”Batalion Terakhir” adalah penyajian Linda yang memperlihatkan betapa Linda sosok yang lucu (kelebihan yang harus dipelihara, karena penulis Indonesia biasanya terlalu serius dengan dirinya sendiri). Linda berkisah bagaimana tentara batalion terakhir di Aceh bergaya pada hari-hari terakhir sebelum mereka pulang ke Jawa. Dengan potongan rambut cepak, dan gaya kepingin difoto-foto dengan Linda, kita membayangkan sebuah hubungan yang menarik antara wartawan dan tentara. Dalam tulisan, kita mempersoalkan kekerasan mereka. Tetapi sehari-hari, tentara adalah manusia biasa yang sederhana dan rindu pada keluarga. Kemampuan Linda menggambarkan tingkah mereka dengan humor inilah yang sangat kurang dimiliki jurnalis Indonesia.

Buku ini bukan hanya melengkapi dan memperkaya pengetahuan kita tentang orang Indonesia (yang dikenal ataupun yang tak dikenal) yang luar biasa kompleks; tetapi memberikan perenungan: tak mudah untuk segera menghakimi dan bersikap moralistis pada kasus-kasus yang terjadi. Linda menarik pembaca untuk berpikir lebih jauh melalui penyajian yang asyik. Buku ini wajib dibaca bukan oleh wartawan saja, tetapi oleh seluruh warga Indonesia yang peduli untuk memperbaiki negeri ini.

Leila S. Chudori

RESENSI – 2

jakartabeat.net — 29 Maret 2009

Dari Soe Hok Gie Menuju Linda Christanty

CATATAN SEORANG DEMONSTRAN mengubah hidup Linda Christanty. Seorang teman asramanya di Bandung memberikan buku yang diangkat dari catatan harian Soe Hok Gie itu. “Linda, kamu harus baca buku ini. Buku bagus. Mudah-mudahan berguna,” ujar sang teman, seorang mahasiswa ITB. Linda masih kelas dua SMA.

Usai mengunyah buku tersebut, Linda menanam cita-cita masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia, tempat Soe Hok Gie kuliah. Dia merindukan lingkungan yang akrab dengan dunia pemikiran dan peduli pada orang-orang biasa yang dipinggirkan oleh kekuasaan. Mimpi tersebut terkabulkan. Perbedaannya, adik Arief Budiman itu belajar di jurusan Sejarah, sementara Linda memilih Sastra Indonesia.

Belakangan, Linda menjadi salah satu penulis sastra yang diperhitungkan. Dia menerima Khatulistiwa Literary Award 2004 atas karyanya Kuda Terbang Mario Pinto, sebuah himpunan cerita pendek. Lima tahun kemudian, ia menghadirkan karya non-fiksi di bawah judul Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay. Saya memulung kisah soal buku Soe Hok Gie di atas dari bab pengantar buku ini.

Sejak bab pengantar itu, Linda telah memamerkan keterampilan bercerita. Tak mengherankan. Saya mengetahui, dia adalah salah seorang yang aktif mempromosikan genre jurnalisme sastrawi—bersama, tentu saja, Andreas Harsono dan para pengelola majalah Pantau lain. Sekadar mengingatkan, jurnalisme sastrawi lumrah disalahpahami. Tapi, inilah salah satu definisi yang “tepat”: genre yang memadukan disiplin baja dalam jurnalisme dan daya tarik sastra; seperti novel tapi tanpa setitik pun fiksi; yang mensyaratkan liputan mendalam, dengan penyajian memikat.

Ya, saya tersihir juga oleh kecermatan menggarap detail dan kepiawaian menata plot milik perempuan kelahiran 1970 itu. Kemampuan ini memang khas para pendekar jurnalisme sastrawi seperti, sekadar menyebut dua, Truman Capote atau Mark Bowden. Tengok, misalnya, Namaku Bre Redana. Saya kutipkan tiga paragraf pertama: “POSTER bugil Madonna. Parfum-parfum dari Loris Azzaro. Tempat tidur bambu. Lemari kayu. Sebuah ruang yang sederhana.

“Dari kamar 3×3 meter persegi itu ia kerap melihat hujan lewat jendela. Ia selalu mendahuluinya dengan ritual kecil, tanpa suara; mematikan lampu, berbaring dalam gelap.”

“Ia senang mendengar jejak hujan pada atap, turun bergemericik di kolam kecil.”

Ada tujuh belas tulisan yang dihimpun. Tak semua bisa dikategorikan sebagai reportase. Tulisan berjudul Pelajaran tentang Keberanian, Sebuah Bahasa, Sebuah Komunitas, dan Mengapa Saya Masih di Aceh? lebih pas disebut sebagai esai. Beberapa di antaranya tentang tokoh ternama: Pramoedya Ananta Toer, Bre Redana, dan Dede Oetomo.

Tulisan-tulisan lain mengenai orang-orang biasa. “Buku ini merupakan rekaman perjalanan, pemikiran, dan kepedulian saya terhadap orang biasa, dari Jawa sampai Aceh. Mereka hidup dalam sistem masyarakat yang diskriminatif dan antiperbedaan, yang dibangun ratusan tahun di negeri yang kemudian dinamai Indonesia,” tulis Linda di pengantar.

Sejak September 2005, Linda tinggal di Nanggroe Aceh Darussalam dan mendirikan kantor feature service di Banda Aceh. Beberapa tulisan di Dari Jawa Menuju Atjeh tak pelak menyodorkan cara pandang alternatif terhadap wilayah yang tengah bangkit pasca-konflik panjang dan bencana tsunami tersebut.

****

SAYA “MENGENAL” LINDA pertama kali pada 1995—saya masih sekolah di Bandung. Artikelnya dimuat di Prisma, jurnal ilmiah populer bergengsi. Judul tulisannya Nyai dan Masyarakat Kolonial Belanda. Saat itu, sebagaimana terbaca di biodatanya, dia masih kuliah di tingkat akhir. Jarang karya mahasiswa (mohon diingat, bukan mahasiswa S3) bisa ditemui di Prisma. Standar jurnal tersebut relatif tinggi.

Aktivitas Linda yang lain adalah menjadi anggota Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER). Orang bilang, dalam soal ideologi, JAKER itu mirip Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada Wiji Thukul dan Orang Hilang, Linda mengisahkan perkenalannya dengan penyair Wiji Thukul. Dan, “…setelah beberapa kali bertemu, kami sepakat membangun Jaringan Kerja Kesenian Rakyat dan sepakat berpihak pada rakyat tertindas dalam karya-karya kami.” Itu terjadi pada Agustus 1994.

Lalu, dia meninggalkan politik dan memeluk jurnalisme sejak 1999. Linda bergabung dengan majalah Pantau. Beberapa tulisan Linda di Dari Jawa Menuju Atjeh pernah dimuat di Pantau. Di perpustakaan kecil kami, tersimpan beberapa edisinya. Saya menyimpan secara khusus, lantaran menganggapnya terlalu berharga untuk diperlakukan sama dengan majalah-majalah lain.

Pada 2006, saya berjumpa lagi melalui Kuda Terbang Mario Pinto. Linda masih “kiri” tapi tumpas steorotype sejumlah kalangan bahwa sastrawan “kiri” gemar menjajah kisah demi ide. Linda fasih bertutur. Tetap politis namun, meminjam Nirwan Dewanto, yang politis itu sekadar hadir sebagai kilas balik tipis.

****

BUKAN MINUS MASALAH. Saya memergoki kurangnya eksplorasi pada beberapa tulisan. Pada Wiji Thukul dan Orang Hilang, Linda menulis, “Namun, Thukul punya satu ruang istimewa: perpustakaan. Ini satu-satunya kemewahan. Di sana ada buku Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond Williams, Marx…kebanyakan buku berbahasa Inggris.”

Sampai di sana. Titik. Padahal, ini fakta menarik. Mestinya ditelusuri sedikit lebih panjang. Linda tak menjawab rasa penasaran saya: dari mana Thukul mendapatkan itu semua? Memangnya aktivis buruh cum penyair itu mampu menyerap teks Inggris? Apa buku favorit dia? Cukup dengan satu atau dua paragraf tambahan, rasa penasaran itu bisa minggat. Jika alasannya teknis, misalnya keterbatasan halaman, penulis setingkat Linda akan dengan mudah mengatasi.

Kurangnya eksplorasi juga terlihat dalam Batalion Terakhir. Ini cerita mengenai Yonif 400/Raider yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. Pada 31 Desember 2005, seluruh prajurit TNI non-organik harus mundur dari Aceh. Setelah sepuluh bulan bertugas, mereka akan menjadi kesatuan pamungkas di Tanah Rencong.

Namun, tak tergambarkan kisah-kisah dramatik selama mereka di sana. Datar. Pun, tak terdeskripsikan kesan-kesan mereka sebagai pihak yang terakhir meninggalkan Serambi Mekah tersebut. Dialog dan narasi yang tersaji membuat saya sulit menemukan perbedaan antara mereka sebagai yang “terakhir” dan prajurit-prajurit lain.

Saya menemukan pula sejumlah kesalahan elementer. Pada Namaku Bre Redana, Linda menulis, “Plaza Senayan, Jakarta Barat.” Mestinya, Jakarta Selatan. Saya cek ke sumber asli tulisan: Pantau, Juni 2002. Hasilnya, memang keliru sejak dari sana.

Kesalahan lain adalah menuliskan nama Imaduddin Abdurrahim, tokoh Islam yang bergiat di Masjid Salman, Bandung, pada Adakah Pelangi dalam Islam?. Linda menuliskannya dengan “Imanuddin.” Tiga kali. Andai saja Linda ngeh bahwa panggilan akrab Imaduddin adalah “Bang Imad”, kekeliruan seperti itu bisa dielakkan.

****

DARI JAWA MENUJU Atjeh adalah karya berharga untuk khazanah jurnalisme Indonesia. Hampir semua tulisan memuncratkan kesan dipersiapkan dengan matang, lalu disajikan secara elok. Pilihan-pilihan topiknya juga mengusung kesegaran. Sosok seperti Parakitri boleh menulis tentang Kusni Kasdut. Tapi, barangkali cuma seorang Linda yang menyusun “biografi” bajingan kecil seperti Kebo yang mati dibakar—itulah yang terbaca dalam Hikayat Kebo.

Ini salah satu paragrafnya: “Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang…”

Saya teringat cerita Soe Hok Gie tentang seorang gembel yang mesti memakan kulit mangga di tong sampah demi menyambung hayat. Apa beda Kebo dan gembel itu sejatinya?! Linda memang “membaca” Hok Gie.

Yus Ariyanto, koordinator Liputan6.com SCTV