Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?

Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.

Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?

Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

***

Novel ini ditulis oleh empat orang yang pernah merasakan susah senangnya hidup dan bersekolah di Belanda. Dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca, kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussels hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker.

Mereka adalah:

Adept Widiarsa
Nisa Riyadi
Rizki Pandu Permana
Wahyuningrat

Nantikan di akhir bulan Maret 2009!
kalau mau pesan sekarang, masih inden ya…

***

“Novel yang menyenangkan…” –Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi

“Keakuratan dan detail cerita di dalamnya membuat saya jadi kangen sama Belanda” –Raditya Dika, penulis Kambing Jantan

“Kisahnya sangat nyata, penuh kejutan, dan inspiratif. Patut dibaca pula bagi yang ingin jalan-jalan ala backpacker di Eropa.” –Trinity, pemilik blog dan penulis buku The Naked Traveler

“…panduan wajib buat mereka yang bercita-cita tinggi agar mampu menghargai persahabatan dan cinta…” –Luigi Pralangga, blogger Indonesia di UN Peacekeeping Mission

http://www.negerivanoranje.nl/

The Authors

Novel tentu ada penulisnya dong.

Novel “Negeri van Oranje” ini ditulis secara keroyokan oleh empat orang yang secara gak sengaja bertemu di negeri kompeni. Berawal dari ide iseng untuk mendokumentasikan apa yang telah mereka rasakan selama hidup dan kuliah di Belanda, hingga secara ajaib menjadi bentuk sebuah novel.

Semua tokoh dalam novel adalah rekaan. Tidak ada satupun yang mencerminkan penulis. Walaupun, untuk beberapa scene mereka tidak bisa melepaskan dari apa yang telah mereka alami sendiri. *kesamaan nama dan kejadian.. sumpah.. gak sengaja!*

Mereka adalah:

Nisa Riyadi
Akhir bulan, saat paling bokek sedunia. Biasanya kalau kantong kering jadi kurang semangat menyambut weekend. Untungnya saya dan beberapa teman dekat sama-sama punya Pathé Unlimited, kartu member bioskop Pathé. Bayar abodemen 17 euro per bulan, boleh nonton sampai botak gondrong. Dari botak sampai gondrong lagi nggak kelar-kelar nontonnya, hehehe. Lumayan juga, mengingat sekali nonton harganya 8 euro. Makanya kita sering mencanangkan “Hari Nonton Sampai Jereng” tiap akhir bulan. Biar miskin tetap berasa tajir, berkat kartu Pathé!

Puas abis nonton seharian, kita masih pengen ngopi-ngopi tapi nggak punya duit. Pas di saat itu, kita baru nyadar kalau ternyata salah satu film yang lagi di putar tengah menawarkan program promo. Kalau nonton film itu, dapat segelas café latte gratis! Masalahnya, film itu udah pernah kita tonton. What to do? Tanpa pikir panjang, kita ramai-ramai beli karcis biskop film promo tadi, menagih café latte gratis yang ditawarkan, lalu sibuk telepon teman masing-masing: “Ada yang minat nonton gratis nggak?” Bener aja, nggak lama kemudian datang serombongan teman yang siap sedia menerima tawaran “murah hati”berupa karcis bioskop yang “mubazir kalau nggak dipakai”. Dapat pahala bikin teman senang, ngopi gratis pun kesampaian!

Wahyuningrat
Gue yakin gue bukan orang pertama sekelurahan gue yang sekolah sampai Belanda. Namun bisa jadi gue adalah orang pertama sekelurahan Pondok Kopi Kecamatan Duren Sawit yang bisa masuk istana, salaman, sekaligus ngobrol dengan Ratu Belanda. Gue dan beberapa teman sekelas terpilih untuk menghadiri undangan “The Fifth Anniversary of the Prince Claus Chair in Development and Equity” di Paleis Noordeinde, The Haque. Kenapa gue yang terpilih? Inilah hikmah dari sering bantu-bantu acara International Alumni jadi tukang sound system di sebuah conference, juga berkah karena punya thesis supervisor yang satu TK dengan Ratu Belanda.

Tinggal di negeri orang meski susah haruslah luwes dalam segala hal. Beragam cara dilakukan untuk tetap bisa survive. Mulai dari ngotot mengganti sendiri ban belakang sepeda yang bocor, yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Menyebabkan pada ujungnya ongkos servis lebih mahal karena salah bongkar, saat menyerah dan membawanya ke montir bule. Bekerja sebagai pelayan di restoran Indonesia sempat membuat gue kaya mendadak karena kebanjiran tip, karena pelayanan yang prima. Semua tamu bule didongengi asal muasal soto lamongan, kenapa rawon kuahnya hitam, dan apa yang dimaksud dengan rujak cingur. Sungguh mereka terkesima. Meski sumpah, susah sekali mencari padanan kata. Dan yang paling mengherankan saat menjadi pelajar miskin di negeri orang adalah, gue bisa kuat antri bolak balik tujuh kali untuk dapat makan kentang goreng khas belanda porsi jumbo yang saat itu sedang perayaan bagi-bagi gratis. Setelah itu bisa hemat tidak makan dua hari karena kekenyangan.

Rizki Pandu Permana
Hidup di Belanda, berarti harus siap dengan segala macam hal yang bernama MAHAL!! Dengan uang beasiswa yang terbatas, maka keinginan buat jalan-jalan keliling eropa hanya bisa disiasati dengan mengirit. Tapi saya, bukan tipe orang yang bisa mengirit, apalagi harus ngirit makan. Maka mencari pekerjaan tambahan adalah salah satu solusinya.

Beberapa pekerjaan tambahan yang pernah saya lakukan adalah cleaning service dan pelayan di restoran. Banyak suka dukanya. Suka ketika kita digaji ‘cukup’ besar. Membuat saya merasa beruntung banget. Ya, bayangin aja, dari kerja cuma bersihin wc dan sekolah selama dua jam sehari, saya mendapat gaji yang kurang lebih sama dengan 4 juta rupiah sebulan. Maka nafsu jalan-jalan saya bisa diambil dari duit itu tentunya. Dukanya adalah ketika menjadi pelayan restoran dadakan di pasar malam, saya dan teman-teman tidak dibayar karena pemiliknya menghilang begitu saja. Yang membuat kami semakin gondok adalah: pemilik restorannya orang Indonesia!! Sungguh tega memang. Semoga beliau dibukakan pintu hatinya.

Adept Widiarsa
Setelah beberapa minggu berdiam di Den Haag, akhirnya saya cukup beruntung berhasil mendapatkan empat sepeda rongsokan yang dipungut di tong sampah apartemen elite di Scheveningen. Setelah dibersihkan dan dipilah, voila! Lahirlah sebuah sepeda gado-gado cantik berwarna abu-abu. Lumayan punya sepeda gratisan. Merek di rangkanya Fongers, sama dengan merek sepeda almarhum embah kakung saya yang mantan carik di Jawa Tengah. Dengan aksesori lampu dan tas bagasi besar gratisan berwarna hijau norak bertulis “Konmar”, jadilah si Fongers teman setia menemani perjalanan studi saya. Cukup lama sang sepeda tak kenal lelah mengantar saya ke mana-mana, termasuk mencari tambahan euro seperti yang lazim dilakukan para mahasiswa di Eropa.

Hingga pada suatu malam, seusai mengunjungi seorang teman yang tinggal dekat Centraal Station Den Haag, di tempat parkir seperti biasa saya memicingkan mata mencari secarik warna hijau norak dari tas bagasi si Fongers. Namun, kali ini yang dicari tidak kelihatan. “Loh kok ndak ada?” Namun, hati saya tetap tenang. “Nggak mungkin sepeda saya hilang,” saya masih optimis. Dua puluh menit berlalu akhirnya saya pasrah, “Ilang deh si Fongers”. Meski sepeda hilang, sebenarnya hati ini tertawa geli. Seandainya tempat parkir itu terang benderang cuma maling mabok atau kurang waras saja yang mau nyolong sepeda saya. Gimana tidak, setelah hampir setahun disiksa kini sang sepeda sedang sekarat. Girnya ambrol, pedalnya menggantung siap lepas sewaktu-waktu. Begitu pula dengan rantainya, sambungan di mana-mana, siap putus sewaktu-waktu. Akhirnya, sambil senyum-senyum saya mengejar tram terakhir sembari berdoa semoga si maling nggak keseruduk tram gara-gara si Fongers yang sekarat ngambek saat dikayuh.