Monyet Aja Bisa Cari Duit (ABCD)
by Zainal Abidin,
Britz Trans Zona , 145 halaman, Rp 40.000

Sinopsis
Monyet ABCDBuku MONYET AJA BISA CARI DUIT adalah buku untuk setiap orang yang ingin mulai membuka dan menjalankan usaha sendiri. Membacanya, seperti menertawakan diri sendiri. Terutama setiap diri yang tidak kunjung mandiri dan masih bersedia dipenjara oleh sebuah ketergantungan, baik ketergantungan pada orang lain, lembaga, instansi, atau negara.

Ditulis dalam bentuk dialog antara seorang mahasiswa semester akhir, yang masih bingung dengan pekerjaan dan masa depannya, dengan seorang entrepreuneur gila yang berusaha menghancurkan mental block si mahasiswa untuk menjadi entrepreuneur sejati.

Buku ini membandingkan manusia dengan monyet. Manusia yang belum bisa mencari duit, dianggap punya derajat lebih rendah daripada seekor monyet. Mungkin terlalu sarkastis, tapi itu adalah kenyataan.

Tidak sekadar menghina, karena setiap orang yang tersinggung namun punya kemauan untuk berubah dan maju, buku ini juga memberikan solusi, bagaimana supaya kita, manusia, bisa dipandang lebih mulia daripada monyet.

***

Sebuah buku yang dapat menjadi bekal bagi siapa saja yang ingin berbisnis tetapi masih takut-takut memulai. Jay mencoba memungut fenomena monyet mencari duit. Semula monyet liar, diberikan training oleh pawang monyet, lalu action manggung. Buku yang benar-benar inspiratif untuk membuat Anda tersinggung.
Isdiyanto Pimpinan Umum & Redaksi Majalah Wirausaha dan Keuangan

Ide-ide nakal tapi masuk akal yang terlontar dari Bang Jay dalam dunia wirausaha seringkali lain dari yang lain ide nakal seperti itu sangat diperlukan di tengah persaingan bisnis yang ketat saat ini.
Yadi – Dompet Dhuafa, Bandung

Kalau di dunia entrepreuneur ada sembilan wali, Bang Jay mungkin wali ke-10. Pikirannya out of the box. Cara-caranya menyimpang, tapi seringkali lebih efektif.
Wahyu Saidi – Alumni ITB, Pemilik Jaringan Warung Bakmi Tebet

Saya adalah salah satu korban perilaku menyimpang Bang Jay. Kumis saya dicukur sebelah, dan saya diminta tidak mencukurnya selama satu minggu. Hasilnya, saya berani berbicara di hadapan ratusan bahkan ribuan orang yang hadir di seminar, dimana saya menjadi pembicara.
H. Nur Huda – Cendol Gading, Jakarta